Kontekstualisasi Kisah Ya’juj dan Ma’juj Dalam Al-Qur’an: Hermeneutika double movement Fazlur Rahman
Keywords:
Ya’juj dan Ma’juj, hermeneutika, fazlur Rahman, kontektualisasi, tafsir tematik.Abstract
Kisah Ya’juj dan Ma’juj dalam Al-Qur’an umumnya dipahami sebagai kisah tentang bangsa tertentu di masa lalu dan tanda menjelang hari kiamat. Pemahaman ini cenderung menempatkan kisah tersebut sebagai peristiwa historis semata, sehingga pesan etisnya kurang terasa dalam persoalan kontemporer. Artikel ini bertujuan mengkontekstualisasikan kisah tersebut melalui hermeneutika gerakan ganda (double movement) Fazlur Rahman agar pesan moralnya relevan dengan kehidupan modern. Penelitian kepustakaan kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis ini menelaah Surah al-Kahfi ayat 94 dan Surah al-Anbiya’ ayat 96 melalui tiga kitab tafsir, yaitu Tafsir al-Mishbah, Tafsir al-Maraghi, dan Tafsir al-Azhar, serta karya-karya Rahman. Hasil kajian menunjukkan bahwa para mufasir terbagi antara pemahaman etnis, yakni bangsa Tartar dan Mongol, dan pemahaman simbolis tentang sifat perusak. Pembacaan gerakan ganda menempatkan kisah ini dalam konteks pewahyuan, lalu menyaring ideal moralnya: penolakan terhadap kerusakan di muka bumi, kepemimpinan yang melindungi kaum lemah, kerja sama, dan kesadaran akan akhir zaman. Ya’juj dan Ma’juj tidak ditujukan kepada etnis tertentu, tetapi kepada sifat individu, kelompok, dan bangsa yang suka membunuh manusia dan merusak bumi. Kemunculan mereka menjelang kiamat tetap merupakan kepastian. Dengan demikian, kisah ini dapat menjadi dasar etika untuk menyikapi kezaliman, eksploitasi alam, dan berbagai bentuk kekerasan di era modern, tanpa menafikan keyakinan akan datangnya akhir zaman.



